Judul : Epstein Files: Etika Diam dalam Dunia yang Terlalu Berkuasa
link : Epstein Files: Etika Diam dalam Dunia yang Terlalu Berkuasa
Epstein Files: Etika Diam dalam Dunia yang Terlalu Berkuasa
*Sebuah catatan menanggapi podcast Deddy Corbuzier tanggal 5 Pebruari 2026_
Oleh: Rendai Ruauw
Kasus Epstein sejak awal bukan sekadar perkara kriminal, melainkan peristiwa kultural. Ia hidup di persimpangan hukum, kekuasaan, media, dan imajinasi publik. Jeffrey Epstein memang pelaku kejahatan seksual serius. Itu fakta. Namun yang membuat kasus ini menjelma monster global bukan hanya tindakannya, melainkan jejaring sosial, ekonomi, dan politik yang membiarkannya berlangsung terlalu lama. Dari titik inilah, kebenaran mulai bercabang. Sebagian menjadi arsip. Sebagian lagi berubah menjadi mitos.
Nama-nama besar muncul dalam Epstein Files dan harus disebut dengan jujur. Donald Trump tercatat pernah berinteraksi sosial dengan Epstein pada era 1990-an. Bill Clinton beberapa kali tercantum dalam flight logs sebagai penumpang pesawat Epstein, meski tanpa bukti kehadiran di Pulau Little St. James. Prince Andrew menghadapi tuduhan serius dari korban dan menyelesaikannya lewat penyelesaian perdata di luar pengadilan. Nama-nama ini bukan gosip. Mereka ada dalam dokumen. Namun dokumen bukan vonis, dan kehadiran bukan bukti kejahatan.
Di sinilah publik sering kehilangan napas. Ketika hukum bergerak lambat dan tidak memberi kepuasan moral, imajinasi mulai mengambil alih. Kekosongan penjelasan struktural diisi dengan cerita yang semakin ekstrem. Maka muncullah narasi tentang badan intelijen global, ritual rahasia, simbol agama, hingga mitos kanibalisme bayi. Bukan karena bukti, melainkan karena manusia sulit menerima bahwa kejahatan besar bisa berlangsung tanpa dalang tunggal yang gelap dan dramatis.
Epstein Files sendiri tidak pernah memuat bukti tentang Mossad, ritual okultisme, atau praktik mistik apa pun. Tidak ada dokumen hukum yang menyebut “memakan bayi”. Tidak ada arsip sah tentang simbol keagamaan seperti Kain Kiswah Ka’bah. Semua itu muncul di luar dokumen, tumbuh di ruang digital yang tidak tahan pada kompleksitas. Ketika kebenaran terlalu membosankan, mitos menawarkan sensasi.
Namun menariknya, mitos ini bukan sekadar kebohongan. Ia adalah indikator kegagalan komunikasi kekuasaan. Ketika sistem hukum tidak transparan, ketika elite tidak akuntabel, ketika media gagal menjelaskan perbedaan antara disebut, diperiksa, dan terbukti, maka publik mencari makna di tempat lain. Mitos adalah bahasa darurat bagi masyarakat yang kehilangan kepercayaan.
Donald Trump, misalnya, sering dijadikan simbol absolut kejahatan Epstein oleh satu kubu, dan sepenuhnya dibersihkan oleh kubu lain. Padahal kenyataannya lebih membosankan dan lebih penting. Ia bagian dari ekosistem sosial yang membiarkan Epstein hidup nyaman sebelum 2005. Tidak lebih, tidak kurang. Clinton juga demikian. Fokus pada siapa yang paling jahat justru membuat kita lupa bertanya mengapa begitu banyak orang berkuasa bisa lolos tanpa pertanyaan serius.
Ketika Epstein mendapat kesepakatan hukum ringan pada 2008, tidak dibutuhkan Mossad, iblis, atau ritual gelap. Yang dibutuhkan hanya jaksa yang kompromistis, pengacara agresif, dan sistem yang lebih peduli stabilitas daripada keadilan. Ini jauh lebih menakutkan daripada teori konspirasi, karena ia nyata dan bisa terulang di mana saja.
Kematian Epstein di penjara kemudian menjadi katalis mitologi. Publik yang frustrasi membaca kematian itu sebagai bukti konspirasi tertinggi. Padahal secara struktural, kematian tahanan kelas atas selalu membawa satu konsekuensi yang sangat duniawi. Proses hukum berhenti. Jaringan selamat. Arsip menjadi bisu. Tidak ada ritual yang dibutuhkan. Sistem hanya perlu diam.
Ghislaine Maxwell dihukum, dan itu benar secara hukum. Namun secara naratif, ia juga menjadi penutup cerita yang terlalu rapi. Seolah dengan satu vonis, dosa kolektif bisa dibersihkan. Padahal sistem yang memungkinkan Maxwell dan Epstein beroperasi tetap utuh. Ia hanya mengganti wajah.
Dalam konteks ini, teori konspirasi ekstrem justru membantu kekuasaan. Ketika publik sibuk membahas bayi, simbol agama, dan badan intelijen rahasia, tuntutan reformasi hukum, transparansi arsip, dan akuntabilitas elite menguap. Kritik sistem kalah oleh sensasi. Dan sistem bernapas lega.
Pandemi Covid mengalami nasib serupa dalam imajinasi publik. Fakta tentang latihan kesiapsiagaan kesehatan global disalahartikan sebagai rencana rahasia. Epstein diseret ke dalam narasi pandemi tanpa bukti. Padahal pandemi menunjukkan sesuatu yang jauh lebih sederhana dan jauh lebih menakutkan. Dunia tidak siap. Negara lamban. Ketimpangan menentukan siapa yang hidup dan siapa yang mati. Tidak ada ritual. Tidak ada kain suci. Hanya kebijakan buruk dan sistem rapuh.
Bagi masyarakat di Asia dan Indonesia, pelajaran ini sangat relevan. Kita hidup di ruang sosial yang mudah terpesona oleh simbol, mudah percaya pada cerita besar, dan sering enggan membedah struktur. Padahal kejahatan kekuasaan jarang mistis. Ia administratif. Ia legalistik. Ia bersembunyi di pasal dan prosedur.
Mungkin itu sebabnya mitos terasa lebih memuaskan. Ia memberi musuh yang jelas, cerita yang hitam putih, dan rasa menjadi “yang tahu”. Namun kritik sistem menuntut hal yang lebih berat. Membaca dokumen. Menahan emosi. Menuntut perubahan kebijakan. Itu tidak seksi. Tapi hanya itu yang bekerja.
Pada akhirnya, Epstein Files tidak membutuhkan tambahan bayi, ritual, atau simbol suci untuk menjadi mengerikan. Ia sudah cukup mengerikan sebagai cermin dunia modern. Dunia di mana kebenaran tidak selalu kalah karena lemah, tetapi karena dikepung terlalu banyak kepentingan. Nama bisa disamarkan. Dokumen bisa dipotong. Waktu bisa diminta bekerja mengubur ingatan.
Kasus Epstein bukan gagal karena kurang bukti, tetapi karena terlalu banyak kekuasaan bertemu di satu titik.
Dan ketika kekuasaan saling melindungi, keadilan sering dipaksa belajar diam.
(RR)
.
Demikianlah Artikel Epstein Files: Etika Diam dalam Dunia yang Terlalu Berkuasa
Anda sekarang membaca artikel Epstein Files: Etika Diam dalam Dunia yang Terlalu Berkuasa dengan alamat link https://siindonews.blogspot.com/2026/02/epstein-files-etika-diam-dalam-dunia.html
